Alamsyah, Antara Pendidikan dan Politik

Obrolan kami pagi itu dimulai dengan sebuah filosofi menarik.

“Semakin banyak ruang kebijakan yang dapat dimanfaatkan, semakin banyak pula hal yang dapat kita perbuat”.

Filosofi ini menjadi pegangan hidup seorang Alamsyah, M.TPd, Bapak 4 anak yang saat ini mengembang amanah sebagai Wakil Ketua II DPRD Kota Bengkulu.

Alamsyah menuturkan, seorang Muslim dituntut untuk menjadi Muslim yang paripurna. Tidak hanya sebagai seorang pekerja dalam sebuah lingkungan kerja, seorang Muslim dituntut untuk menjadi manusia yang komprehensif, yang mampu memposisikan diri dalam berbagai peran, sebagai pendidik, sebagai ekonom, sebagai politisi dan lain sebagainya.

Saat ini ia terus berusaha menempatkan dirinya tidak hanya sebagai seorang politisi, tapi juga mampu menjadi pendidik dan seorang yang memiliki peran positif dalam masyarakat.

Pria yang akrab disapa “Ustad Alam” ini pun memberi contoh dengan mengutip Surat Al Ma’uun dalam Al-Quran. Hakikat dari Surat ini pun menjadi pegangan Alamsyah dalam menjalani kehidupan sosialnya. Dengan memberi makan pada fakir miskin dan menyayangi anak yatim, persoalan sosial sebenarnya dapat ditanggulangi bersama. Dan dengan amanah yang diembannya sebagai pimpinan lembaga DPRD saat ini, ia berharap dapat mendorong lembaga ini untuk membuat regulasinya.

Politik rupanya bukan hal baru dalam hidup seorang Alamsyah. Politik kampus sudah pernah dilakoninya saat menjadi mahasiswa FKIP Unib. Pada tataran ini, Alamsyah memaknai politik kampus sebagai manifestasi gerakan mahasiswa. Kampus baginya adalah ruang industri pemikiran sekaligus tempat paling teruji untuk mengukur kompetensi politik. Di kampus juga ia belajar mengenai hakekat berpolitik bagi mahasiswa baik tentang kepemimpinan, keorganisasian, strategi dan taktik hingga kebijakan kampus. Dan hal tersebut memberika dampak positif bagi kehidupan politik Alamsyah di masa kini.

Dalam tataran politik praktis yang dilakoninya saat ini, ia dituntut mampu bersikap bijak. Mampu mengakomodir berbagai kepentingan, baik itu kepentingan lembaga, partai politik yang mengutusnya dan konstituen yang memilihnya. Diakuinya sikap-sikap tersebut sedikit banyak dipengaruhi pengalamannya ketika di kampus.

Obrolan kami berlanjut mengenai perannya sebagai seorang pendidik. Pendidikan merupakan hal yang tidak terlepas dari kehidupannya. Berangkat dari hakikat bahwa “pendidikan bukanlah segalanya, namun tanpa pendidikan manusia tidak ada artinya”, ia berpendapat bahwa generasi yang kokoh dan berkualitas hanya akan dihasilkan melalui proses pendidikan yang baik pula. Ia pun memiliki cita-cita filantropis dalam dunia pendidikan di Bengkulu. Ia bertekad untuk menjadikan anak-anak Bengkulu sebagai anak-anak berpendidikan kuat baik itu pendidikan umum maupun keagamaan. Dengan amanah yang diembannya sebagai pimpinan lembaga politik dalam Pemerintahan Daerah, ia berusaha maksimal untuk mewujudkan cita-cita filantropis itu melalui regulasi yang harus dijadikan patokan bagi Pemerintah Daerah dalam membuat kebijakan-kebijakan yang mengarah pada perbaikan dan peningkatan kualitas pendidikan.

Dengan beragam kesibukannya sebagai wakil rakyat saat ini, apakah ia tidak merindukan suasana belajar mengajar dan mendidik anak-anak?

“Tentu rindu, karena pernah menjadi rutinitas saya setiap hari. Namun kerinduan dalam mendidik anak-anak kan bisa dilakukan dengan cara lain. Salah satunya dengan mengadvokasi pemerintah daerah untuk memprioritaskan anggaran pendidikan yang lebih maksimal,” ujarnya.

Menutup obrolan kami hari itu, Alamsyah memberikan saran kepada pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Kota Bengkulu.

“Yang pertama pemerintah daerah harus memiliki visi komprehensif mengenai pendidikan, harus ada garis besar visi sektor pendidikan sehingga dapat mendorong setiap elemen masyarakat untuk bekerja maksimal dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Reward saya pikir juga sangat penting diberikan bagi mereka yang berprestasi. Selain itu, pendidikan tidak akan berjalan baik tanpa akhlak serta keimanan kepada Tuhan. Semuanya harus seiring sejalan,” pungkasnya.

BIODATA

Nama                               : Alamsyah, M.TPd

Tempat Tanggal Lahir : Pagar Alam, 27 Mei 1980

Nama Istri                      : Tuti Hendriani, S.Pd

Nama Anak                    : 1. Salma Ishmah

2. Ahmad Musyafa

3. Muhammad Fahmi

4. Muhammad Abdurahman